Cerpenku
“11 – 11 - 2011”
“Hari ini
tanggal 10-11-2011 esok pastilah tanggal 11-11-2011. Pada saat itu mungkin
banyak kejadian berkesan bagi semua orang.” Gumamku dalam hati, “Kalau semua
orang bisa mendapatkan harapannya, mengapa aku tidak ???” lanjutku.
Malam itu
tak ada habis – habisnya aku membayangkan apa yang terjadi besok. Segala
harapan terus ku pikirkan untuk apa yang ku inginkan. Doa ku malam itu tak ada
habisnya. Hingga ku beranjak tidur pun tak lepas ku memikirkannya.
Pagi harinya
aku mulai bersemangat. Matahari bersinar
dengan hangatnya, awan gelap tak sedikitpun menampakkan dirinya. Pagi
yang cerah untuk mengawali hariku yang penuh harapan. Berangkat sekolah dengan
semangat yang baru. Hari ku di sekolah hari ini diawali dengan senam bersama.
Namun entah mengapa ada dorongan kuat untuk menjalani hari ini.
Jam
pelajaran ku lalui dengan sebaik mungkin. Walaupun disaat jam pelajaran olah
raga aku merasa belum siap dengan materi yang akan diberikan hari ini. Senam
lantai. Ya, itu adalah materi yang paling kubenci. Hari ini adalah waktunya
penilaian, mau tak mau aku harus mengikutinya. Aku merasa tak percaya diri saat
mencoba gerakan baru itu. Dan,,
“ah, betapa buruknya
penampilan ku tadi… memalukan… “
Untuk jam
pelajaran selanjutnya aku dapat menjalaninya dengan baik. Namun tetaplah saja
bayangan tantang harapan ku hari ini terus menghantui ku.
Jam
pelajaran pun selesai, aku yang berada di perpustakaan kembali ke kelas untuk
berkemas –kemas. Beberapa saat setelah keluar dari perpustakaan ada sesuatu
yang menghentikan langkah ku. Ku merasa ada medan magnet yang menarik ku. Ku
yakin jika itu tertuju pada ku.
Rahman. Ia
adalah teman lamaku, namun kini kita satu sekolah lagi. Wajah manis tak pernah
terlupakan. Dan tak ku duga ia melemparkan senyumnya pada ku. “Duh
manisnya,,” Ini adalah senyuman pertama
setelah lama aku tak bertemu dengannya.
Ternyata
senyuman itulah yang membuatku berhenti seketika.
“Hah ?? kok bisa seperti ini. Memangnya aku suka padanya ?”
“Tidaklah. Tidak”, batin ku pun mulai bertanya.
Senyumannya itu sebagai hadiah pertama ku hari
ini. Karena aku selalu berharap dapat tersenyum bersama teman lama ku.
Sesampainya
di kelas aku mulai berkemas – kemas dan lalu pulang. Sepanjang rute perjalanan
pulangku, ku mencoba melihat sekelilingku. Tak kusangka banyak orang yang
berbahagia hari ini. Karena hari ini hari Jum’at dan jadwal ku untuk berangkat
les. Lalu ku persiapkan barang – barang ku untuk berangkat les.
Sekarang
pukul 14.45, aku harus cepat – cepat berangkat karna ku tau jika aku pasti
datang terlambat. Dengan segera aku meninggalkan rumah mengayuh sepeda ku
secepat – cepatnya. Sore itu terasa panas dan membuatku merasa kepanasan.
Sesampainya di tempat les aku langsung
masuk ke kelasku dan mengambil duduk berada di bawah AC.
Hari ini
adalah pelajaran fisika. Pelajaran yang sangat membosankan bagi ku dan teman –
teman yang lain. Saat tentor ku keluar, aku dan teman – teman menyanyi untuk
menghibur diri. Kami menyanyikan beberapa lagu bersama. Walaupun suara kami tak
terlalu bagus, setidaknya ini membuat kelasku menjadi bersuara. Dan inilah
hadiah keduaku.
Bel pun berbunyi, saatnya untuk
kembali ke rumahdan beristirahat. Ku berjalan menyusuri pedestarian menuju
tempat pemberhentian angkutan. Setelah angkutan datang aku pun naik. Angkutan
yang naiki selalu melewati sekolah
sehingga aku punya kesempatan untuk dapat melihat suasana sekolah ku di sore
hari.
Pandangan ku berhenti sesaat ketika
melihat sesosok pria beserta temannya duduk diatas motor mereka yang terparkir
di halaman sekolah. Tenyata dia adalah Kak Ahmadi. Dia temanku, kerena usianya
terpaut 3 tahun lebih tua dariku maka aku menganggapnya seperti kakak ku
sendiri. Sebenarnya tak ada yang aneh darinya. Namun entah kenapa setelah aku
melihat itu perasaan ku menjadi kacau.
Ku coba mencari apa penyebabnya. Ku
putar otakku untuk mempikirkannya. Dan
ku temukan jawabannya, ternyata disana ku melihat seorang wanita duduk berjajar
dengan kak Ahmadi. Aku tetap tak tau apa yang membuatku tak
tenang.
“ Apakah aku jatuh cinta pada Kak Ahmadi
??” “Ah tidak,, Itu tidak mungkin. Aku
hanya menganggapnya sebagai kakakku. Tak
lebih.”
Aku mencoba untuk meyakinkan diriku.
Mobil angkutan terus berjalan hingga aku
pun sampai. Ku ambil sepeda ku di penitipan sepada dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah aku tetap tak berhenti memikirkan hal itu.
Tak ku tahu sesampainya di rumah
ternyata ibuku sudah datang. Ku masuk rumah dengan wajah yang masam. Ku dudukan
diriku diatas kasur. Aku pun merasa bosan dan ku cari beberapa camilan untuk
menghiburku. Di dapur ada secangkir teh hangat untukku entah dari siapa itu. Ku
minum secangkir teh hangat itu ditemani beberapa camilan.
Magrib pun dating. Setelah sholat
magrib hatiku tetap tak tenang. Lalu ku ambil ponsel ku dan mengirim pesan
kepada sahabatku Wati. Ku ceritakan apa yang telah terjadi. Wati memberiku
tempat untuk menumpahkan segala perasaan ku. Dan terkadangia pun member saran
untukku.
Setelah banyak yang ku ceritakan
pada Wati, aku mencoba mengirim pesan pada Dodo. Dodo adalah teman ku dulu SD
yang sekarang ia tinggal di Jakarta. Ku
menunggu beberapa menit untuk mendapatkan balasan darinya. Balasan pun datang
dan ku mulai pembicaraan dengan menanyakan kejadian yang ia alami hari ini. Dan
ia pun mulai menjawab beberapa pertanyaan ku.
Tak terasa telah banyak waktu yang
ku habiskan bersamanya. Beberapa cerita ku dapatkan darinya. Walaupun jarak dan
waktu yang kita miliki terbatas, namun tak akan menyurutkan keinginan kami
untuk terus menjalin pertemanan. Banyak bercerita pada ku walau sebenarnya itu
karena ku paksa. Untuk menghargainya yang telah meluangkan waktunya untukku,
aku pun juga banyak bercerita tentang apa yang ku alami hari ini.
Malam mulai larut, ku hanyut dalam
indahnya kebersamaan bersama teman lama. Ku tertawa mendengarkan ceritanya
sehingga ku terlupa akan perasaan gelisah ku tadi sore. Sesuai dengan saran
dari Wati dan juga Dodo aku harus menanyakan apa yang terjadi pada Kak Ahmadi
tadi sore.
Aku mulai mengirim pesan kepadanya. Walaupun sekarang
sudah pukul 23.30, tapi aku tau jika malam – malam seperti ini Kak Ahmadi belum
tidur. Dengan rasa bimbang yang menyelimuti perasaan ku, aku memberanikan diri
untuk menanyakan hal itu kepadanya. Setelah ia membalas pesan ku, aku mulai
menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kak Ahmadi yang ku tunjuk sebagai
permasalahannya ia pun tertawa dan menjelaskan bahwa tadi sore itu hanya ia
sedang berkumpul – kumpul dengan teman – temannya. Jadi wajarlah jika
bercengkrama dengan temannya.
Setelah aku mendapatkan jawaban
darinya hati ku mulai tenang dan mengakhiri hari ku dengan tidur. Walaupun
sebenarnya aku menyimpan rasa malu ku namun setidaknya aku telah menyelesaikan
perasaan yang terus membelit pikiran ku. Dalam hati ku berkata,
”Memalukan
sekali sikap ku ini, hanya hal sepele saja diributkan.”“Semakin membuat ku malu
karena ditertawakan oleh Kak Ahmadi. Huft..”
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar