Senin, 20 Februari 2012

Cerpen buatan sendiri


Cerpenku
“11 – 11 - 2011”

            “Hari ini tanggal 10-11-2011 esok pastilah tanggal 11-11-2011. Pada saat itu mungkin banyak kejadian berkesan bagi semua orang.” Gumamku dalam hati, “Kalau semua orang bisa mendapatkan harapannya, mengapa aku tidak ???” lanjutku.
            Malam itu tak ada habis – habisnya aku membayangkan apa yang terjadi besok. Segala harapan terus ku pikirkan untuk apa yang ku inginkan. Doa ku malam itu tak ada habisnya. Hingga ku beranjak tidur pun tak lepas ku memikirkannya.
            Pagi harinya aku mulai bersemangat. Matahari bersinar  dengan hangatnya, awan gelap tak sedikitpun menampakkan dirinya. Pagi yang cerah untuk mengawali hariku yang penuh harapan. Berangkat sekolah dengan semangat yang baru. Hari ku di sekolah hari ini diawali dengan senam bersama. Namun entah mengapa ada dorongan kuat untuk menjalani hari ini.
            Jam pelajaran ku lalui dengan sebaik mungkin. Walaupun disaat jam pelajaran olah raga aku merasa belum siap dengan materi yang akan diberikan hari ini. Senam lantai. Ya, itu adalah materi yang paling kubenci. Hari ini adalah waktunya penilaian, mau tak mau aku harus mengikutinya. Aku merasa tak percaya diri saat mencoba gerakan baru itu. Dan,,
 “ah, betapa buruknya penampilan ku tadi… memalukan… “
            Untuk jam pelajaran selanjutnya aku dapat menjalaninya dengan baik. Namun tetaplah saja bayangan tantang harapan ku hari ini terus menghantui ku.
            Jam pelajaran pun selesai, aku yang berada di perpustakaan kembali ke kelas untuk berkemas –kemas. Beberapa saat setelah keluar dari perpustakaan ada sesuatu yang menghentikan langkah ku. Ku merasa ada medan magnet yang menarik ku. Ku yakin jika itu tertuju pada ku.
            Rahman. Ia adalah teman lamaku, namun kini kita satu sekolah lagi. Wajah manis tak pernah terlupakan. Dan tak ku duga ia melemparkan senyumnya pada ku. “Duh manisnya,,”  Ini adalah senyuman pertama setelah lama aku tak bertemu dengannya.
            Ternyata senyuman itulah yang membuatku berhenti seketika.
“Hah ?? kok bisa seperti ini. Memangnya aku suka padanya ?” “Tidaklah. Tidak”, batin ku pun mulai bertanya.
             Senyumannya itu sebagai hadiah pertama ku hari ini. Karena aku selalu berharap dapat tersenyum bersama teman lama ku.
            Sesampainya di kelas aku mulai berkemas – kemas dan lalu pulang. Sepanjang rute perjalanan pulangku, ku mencoba melihat sekelilingku. Tak kusangka banyak orang yang berbahagia hari ini. Karena hari ini hari Jum’at dan jadwal ku untuk berangkat les. Lalu ku persiapkan barang – barang ku untuk berangkat les.
            Sekarang pukul 14.45, aku harus cepat – cepat berangkat karna ku tau jika aku pasti datang terlambat. Dengan segera aku meninggalkan rumah mengayuh sepeda ku secepat – cepatnya. Sore itu terasa panas dan membuatku merasa kepanasan. Sesampainya di tempat  les aku langsung masuk ke kelasku dan mengambil duduk berada di bawah AC.
            Hari ini adalah pelajaran fisika. Pelajaran yang sangat membosankan bagi ku dan teman – teman yang lain. Saat tentor ku keluar, aku dan teman – teman menyanyi untuk menghibur diri. Kami menyanyikan beberapa lagu bersama. Walaupun suara kami tak terlalu bagus, setidaknya ini membuat kelasku menjadi bersuara. Dan inilah hadiah keduaku.
            Bel pun berbunyi, saatnya untuk kembali ke rumahdan beristirahat. Ku berjalan menyusuri pedestarian menuju tempat pemberhentian angkutan. Setelah angkutan datang aku pun naik. Angkutan yang naiki selalu melewati  sekolah sehingga aku punya kesempatan untuk dapat melihat suasana sekolah ku di sore hari.
            Pandangan ku berhenti sesaat ketika melihat sesosok pria beserta temannya duduk diatas motor mereka yang terparkir di halaman sekolah. Tenyata dia adalah Kak Ahmadi. Dia temanku, kerena usianya terpaut 3 tahun lebih tua dariku maka aku menganggapnya seperti kakak ku sendiri. Sebenarnya tak ada yang aneh darinya. Namun entah kenapa setelah aku melihat itu perasaan ku menjadi kacau.
            Ku coba mencari apa penyebabnya. Ku putar otakku untuk mempikirkannya.  Dan ku temukan jawabannya, ternyata disana ku melihat seorang wanita duduk berjajar dengan kak  Ahmadi.  Aku tetap tak tau apa yang membuatku tak tenang.
 “ Apakah aku jatuh cinta pada Kak Ahmadi ??”  “Ah tidak,, Itu tidak mungkin. Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku.  Tak lebih.”
            Aku mencoba untuk meyakinkan diriku. Mobil angkutan  terus berjalan hingga aku pun sampai. Ku ambil sepeda ku di penitipan sepada dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku tetap tak berhenti memikirkan hal itu.
            Tak ku tahu sesampainya di rumah ternyata ibuku sudah datang. Ku masuk rumah dengan wajah yang masam. Ku dudukan diriku diatas kasur. Aku pun merasa bosan dan ku cari beberapa camilan untuk menghiburku. Di dapur ada secangkir teh hangat untukku entah dari siapa itu. Ku minum secangkir teh hangat itu ditemani beberapa camilan.
            Magrib pun dating. Setelah sholat magrib hatiku tetap tak tenang. Lalu ku ambil ponsel ku dan mengirim pesan kepada sahabatku Wati. Ku ceritakan apa yang telah terjadi. Wati memberiku tempat untuk menumpahkan segala perasaan ku. Dan terkadangia pun member saran untukku.
            Setelah banyak yang ku ceritakan pada Wati, aku mencoba mengirim pesan pada Dodo. Dodo adalah teman ku dulu SD yang sekarang  ia tinggal di Jakarta. Ku menunggu beberapa menit untuk mendapatkan balasan darinya. Balasan pun datang dan ku mulai pembicaraan dengan menanyakan kejadian yang ia alami hari ini. Dan ia pun mulai menjawab beberapa pertanyaan ku.
            Tak terasa telah banyak waktu yang ku habiskan bersamanya. Beberapa cerita ku dapatkan darinya. Walaupun jarak dan waktu yang kita miliki terbatas, namun tak akan menyurutkan keinginan kami untuk terus menjalin pertemanan. Banyak bercerita pada ku walau sebenarnya itu karena ku paksa. Untuk menghargainya yang telah meluangkan waktunya untukku, aku pun juga banyak bercerita tentang apa yang ku alami hari ini.
            Malam mulai larut, ku hanyut dalam indahnya kebersamaan bersama teman lama. Ku tertawa mendengarkan ceritanya sehingga ku terlupa akan perasaan gelisah ku tadi sore. Sesuai dengan saran dari Wati dan juga Dodo aku harus menanyakan apa yang terjadi pada Kak Ahmadi tadi sore.
            Aku mulai  mengirim pesan kepadanya. Walaupun sekarang sudah pukul 23.30, tapi aku tau jika malam – malam seperti ini Kak Ahmadi belum tidur. Dengan rasa bimbang yang menyelimuti perasaan ku, aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepadanya. Setelah ia membalas pesan ku, aku mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kak Ahmadi yang ku tunjuk sebagai permasalahannya ia pun tertawa dan menjelaskan bahwa tadi sore itu hanya ia sedang berkumpul – kumpul dengan teman – temannya. Jadi wajarlah jika bercengkrama dengan temannya.
            Setelah aku mendapatkan jawaban darinya hati ku mulai tenang dan mengakhiri hari ku dengan tidur. Walaupun sebenarnya aku menyimpan rasa malu ku namun setidaknya aku telah menyelesaikan perasaan yang terus membelit pikiran ku. Dalam hati ku berkata,
”Memalukan sekali sikap ku ini, hanya hal sepele saja diributkan.”“Semakin membuat ku malu karena ditertawakan oleh Kak Ahmadi. Huft..”
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar